Sumatera Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan jumlah mencapai 163.291 unit (Dinas Koperasi dan UKM Sumsel, 2022). Di tengah tantangan Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0 serta meningkatnya tekanan lingkungan dan dampak perubahan iklim, UMKM Desa dituntut memiliki resiliensi yang tinggi agar mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Resiliensi tersebut tidak hanya bergantung pada kapasitas usaha, tetapi juga pada dukungan lingkungan yang aman, pengelolaan sumber daya alam yang bijak, fasilitas penunjang, pemanfaatan teknologi pemasaran digital, serta akses internet yang memadai. Dengan mengedepankan kearifan lokal—khususnya pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan—UMKM Desa berpeluang meningkatkan daya saing sekaligus mendorong praktik usaha yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Desa Tanjung Pinang I, Tanjung Pinang II, Limbang Jaya I, Limbang Jaya II, dan Desa Tanjung Laut di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, merupakan wilayah dengan potensi UMKM berbasis sumber daya alam, seperti hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan air tawar. Namun, desa-desa ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya pertumbuhan UMKM, tingginya tingkat kriminalitas, lambatnya administrasi desa, hingga risiko banjir yang semakin meningkat sebagai dampak perubahan iklim. Ketiadaan basis data kependudukan dan wilayah berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) juga menyulitkan perencanaan pembangunan desa yang sensitif terhadap risiko lingkungan dan bencana, termasuk pengelolaan lahan pertanian, perkebunan, serta wilayah perairan secara berkelanjutan.
Sebagai solusi atas tantangan tersebut anggota dari Tumbuh Berkah Bersama melalui afiliasi Politeknik Negeri Sriwijaya dengan Kolaborasi dengan Universitas Sriwijaya dapam Program Matching Fund Tahun 2022, dikembangkan Smart Village Ogan Ilir (SVOI) sebagai platform teknologi terintegrasi yang memperkuat sinergi antara UMKM Desa dan Pemerintahan Desa di lima desa sekaligus dengan perspektif keberlanjutan lingkungan. Melalui marketplace desa, SVOI mendukung pemasaran produk pertanian, perkebunan, dan perikanan lokal yang bernilai tambah, sementara sistem e-government dan SIG terintegrasi dengan Google Maps memungkinkan perencanaan tata ruang desa, pemantauan wilayah rawan banjir, serta pengelolaan sumber daya alam yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Fitur early warning system banjir menjadi instrumen penting dalam mitigasi risiko iklim, sementara sistem transportasi digital multi-platform berkontribusi pada efisiensi distribusi hasil produksi desa. Dengan pendekatan ini, SVOI tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi desa, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.